Kesadaran Mental Health Pada Generasi Millenials

Kesehatan mental merupakan kondisi ketika batin seseorang berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang dapat mengarah pada perilaku buruk.

Ada berbagai contoh gangguan kesehatan mental di antaranya: stress, depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder), dan masih banyak lagi. Kesadaran untuk menjaga kesehatan mental menjadi sebuah kebutuhan yang harus diperhatikan oleh masyarakat khususnya di kalangan remaja.

Berdasarkan survei World Health Organization (WHO), sebanyak 10-20% anak dan remaja di seluruh dunia mengalami gangguan secara psikis. Separuh penyakit kejiwaan ditemukan sejak usia semuda 14 tahun. 5-15% remaja berusia 12-18 tahun memiliki kecenderungan untuk melakukan percobaan bunuh diri, tersebar di negara-negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, sangat sedikit penelitian yang fokus melakukan riset mengenai jumlah remaja yang memiliki gangguan mental. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan mental masih merupakan sesuatu yang tabu dan tersembunyi di masyarakat kita. 

Fakta ini sangat memprihatinkan. Banyak dari masyarakat yang berpikir bahwa mereka yang tertekan secara batin hanyalah diliputi oleh ketakutan yang tidak masuk akal dan bisa diselesaikan dengan cara berpikir positif saja. Pemahaman tersebut sudah menjadi budaya di masyarakat. Padahal, gangguan mental bisa menjadi lebih dekat daripada yang kita kira, seperti berpikir untuk mati daripada dihina secara fisik oleh teman-teman sebaya.

Selama dekade terakhir, jumlah kematian akibat bunuh diri terutama pada remaja cenderung meningkat, lebih dari 30% bagi remaja laki-laki dan dua kali lipat bagi remaja perempuan (CDCP). Hingga saat ini, bunuh diri tetap menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia untuk remaja dan dewasa muda (WHO, 2014). Hampir 800.000 orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri. Semua angka ini seharusnya menjadi renungan bagi kita. Keputusan untuk mengakhiri nyawa sendiri tidak mungkin berawal dari pikiran yang sehat. 

Oleh karena itu, marilah mulai dari sekarang kita harus sadar bahwa ekspektasi terhadap generasi muda menjadi besar sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan informasi yang setiap waktu terus menuntut mereka, dan hal itu tentunya turut memberikan tekanan pada kejiwaan para remaja. Bukan tidak mungkin ketika para orang tua sedang asyik menonton televisi atau tertawa bersama, ada para remaja yang menangis dan melukai diri sendiri di kamar mereka. Ketika sebagian siswa bersemangat untuk berangkat sekolah, mungkin ada sebagian lainnya yang bahkan sulit untuk menemukan semangat melanjutkan hidup dan hanya terbaring lemah.

Walaupun ini merupakan masalah yang kompleks, tetapi masyarakat secara perlahan harus bisa menunjukkan empati mereka bagi penderita gangguan mental. Konselor dan para pembimbing yang kompeten di lembaga pendidikan menjadi salah satu gerbang utama menuju pengetahuan tentang gangguan mental bagi remaja. Seminar dan sosialisasi tentang pentingnya kesehatan mental pun dapat dilakukan sesekali untuk mengedukasi remaja agar lebih aware terhadap diri mereka. Selain itu, kita juga dapat membuat sebuah nomor telepon gawat darurat yang mudah diakses para pelajar apabila mereka berpikir untuk melukai diri sendiri maupun hal-hal tak diinginkan lainnya. 

Segala aspek kemasyarakatan turut berperan dalam menciptakan sistem pendukung (support system) bagi para penderita gangguan mental, apalagi remaja. Gangguan mental harus berhenti dianggap sebagai sesuatu yang aneh, hina, dan asing di telinga masyarakat kita. Semua penderita, khususnya para remaja yang sedang berjuang membutuhkan banyak dukungan yang kuat. 

Sebuah anggapan terkait orang yang ‘sehat’ hanya karena mereka tidak terlihat ‘sakit’ harus dihilangkan, karena meskipun demikian, bukan berarti bahwa gangguan kejiwaan itu tidak ada, tidak realistis, dan tidak valid. Dengan abai dan acuh terhadap mereka, kita hanya memperparah keadaan. Semua perasaan yang tercipta dalam pikiran mereka bukanlah sebuah pilihan, melainkan cobaan. Menemani dalam rutinitas terapi dan konsumsi obat-obatan, menunjukkan kasih sayang dan dukungan moral, serta menepis stigma yang berseliweran di masyarakat tentang penderita gangguan mental akan turut memberikan semangat, harapan serta masa depan bagi mereka.

 

Komentar